My Pegasus (Love Hurts)
Oleh: Aira Nugrahayu
Aku melihatnya lagi. Laki-laki
bertubuh tinggi dengan alis mata tegasnya itu tampak berjalan bersama dengan
teman dekatnya. Ia tersenyum. Tuhan, senyum itu benar-benar candu bagiku. Ingin
rasanya setiap hari bisa melihatnya. Tak masalah walaupun dari jarak sejauh
ini, yang terpenting aku bisa melihat senyumnya yang memabukkan itu.
"Kau lihat siapa?" Tanya Jung Hi
yang tiba-tiba duduk di sampingku.
"Aku melihat pangeran tampan." Ucapku masih
sambil terus memperhatikan laki-laki tadi. Jung Hi kemudian mengikuti arah
pandangku. Saat dia tahu siapa yang kumaksud, ia langsung menggeleng pelan.
"Maksudmu Kris?" Aku hanya
mengangguk. Dengan senyum yang mengembang, pandanganku masih tetap terfokus
pada Kris.
"Dia lagi, dia lagi." Ucap Jung Hi malas.
"Kau jangan terlalu terobsesi
dengan laki-laki keturunan Kanada Cina itu. Terlalu berharap tinggi apa kau
tidak takut jatuh?" Ucapan Jung Hi membuatku menoleh. Aku menghela nafas
pelan.
"Mungkin kau benar, Jung
Hi." Aku menunduk. Benar, rasanya mustahil jika Kris sang idol sekolah ini
bisa jadi milikku.
"Yak! Kenapa jadi patah
semangat begini? Mana Yoo Ra yang selalu semangat dan pantang menyerah." Aku
langsung memandang Jung Hi dengan bingung. Bukankah tadi sepertinya dia tidak
setuju denganku?
"Kenapa? Aku hanya bercanda
tadi. Jika kau memang menyukai Kris, kenapa tidak kau perjuangkan saja."
"Eh?" Aku bingung, tapi
dalam hati aku senang karena ternyata Jung Hi mendukungku.
"Segera nyatakan perasaanmu,
kawan."
"Hmm... Tapi bagaimana aku
harus memulainya?"
"Beri dia surat cinta."
"Uhukk.." Aku yang saat
itu sedang minum langsung tersedak begitu mendengar pernyataan dari Jung Hi.
"Surat cinta?"
"Iya, surat cinta. Atau kau mau
mengatakan secara langsung perasaanmu?"
"Yak! Tidak mau. Mana mungkin
aku menyatakan perasaanku secara langsung. Tentu saja aku memilih metode surat
cinta." Pipiku mungkin sudah bersemu merah sekarang. Huh, kenapa tiba-tiba
jantungku berdetak sangat cepat.
"Kalau begitu cepat buat surat
cintamu dan berikan pada Kris."
"Eh? apa aku harus berikan
sendiri suratnya?" Jung Hi hanya menepuk pelan dahinya menghadapi
kepolosanku atau lebih tepatnya kebodohanku.
"Tentu saja kau berikan
sendiri."
"Apa? tapi... tapi..."
"Ayo Yoo Ra, kau pasti bisa. Semangat,
semangat." Aku hanya menggembungkan kedua pipiku gugup. Baiklah, apa
salahnya mencoba.
Keesokan harinya, aku berjalan ke
kelas Jung Hi. Entahlah, aku masih butuh saran-saran darinya.
"Bagaimana?" Tanyanya
padaku saat aku memanggilnya di depan pintu kelasnya.
"Aku akan memberikan padanya." Aku menunjukkan surat bersampul biru muda itu pada Jung Hi. Aku sudah susah payah semalaman menyusun kata demi kata agar menjadi rangkaian kalimat yang indah.
"Aku akan memberikan padanya." Aku menunjukkan surat bersampul biru muda itu pada Jung Hi. Aku sudah susah payah semalaman menyusun kata demi kata agar menjadi rangkaian kalimat yang indah.
"Bagus. Lalu tunggu apa
lagi?"
"Aku masih ragu. Aku benar-benar
gugup sekarang."
"Begini, mudah saja. Kau cari
Kris, jika sudah
bertemu ulurkan tanganmu dan berikan surat cinta itu pada Kris. Mudah,
kan?"
"Tapi bagaimana jika
kemungkinan buruk terjadi?"
"Kau belum mencobanya kenapa
sudah berpikiran yang buruk dulu. Aku yakin akan baik-baik saja. Bukankah Kris
itu anak yang baik?" Aku mengangguk. Jung Hi kemudian menepuk pundakku
pelan.
"Baiklah Yoo Ra, semoga
berhasil. Semangat!" Ia mengepalkan salah satu tangannya. Aku mengangguk
mantap.
"Hmm, semangat!” Kulangkahkan
kakiku menuju kelas Kris. Jarak kelas kami tak terlalu jauh, hanya perlu
melewati 3 kelas untuk sampai di kelas Kris. Saat sampai di depan kelasnya, aku
masih mengatur napas karena tiba-tiba rasa gugup menguasaiku. Setelah beberapa
saat aku mencoba tenang, akhirnya aku memasuki kelas Kris dan megedarkan
pandanganku untuk mencari sosoknya. Itu dia, dia sedang tidur di bangkunya.
Teman sebangkunya tengah sibuk memainkan pianika. Aku berjalan menuju mejanya.
"Apa Kris tidur?" tanyaku
pada teman sebangkunya. Laki-laki itu menghentikan permainan pianikanya dan
memandangku sejenak. Dia tersenyum ramah.
"Kris, ada seorang gadis yang
mencarimu." Kulihat Kris yang tadi memejamkan mata mulai
bangkit. Aku menelan ludah saat pandangannya menatapku. Bagaimana ini? Rasa gugup
itu menyerangku kembali.
"Bisa kita bicara? Ada sesuatu yang ingin aku
berikan padamu." Kris mengangguk dan beranjak pergi dari
bangkunya. Hei! Dia bahkan mendahuluiku.
Ketika sampai di koridor kelas, Kris
menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku. Sebelum ia bertanya apa
tujuanku, aku segera memberikan suratku padanya. Dia sedikit bingung ketika aku
memberikan surat itu padanya. Tapi sedetik kemudian tangannya tanpa ragu menerima
surat cintaku. Aku bersorak dalam hati, ternyata Kris sangat baik. Tidak angkuh
seperti yang dikatakan teman-teman kebanyakan. Dia hanya mengangguk sambil
memandangi surat itu. Kulihat ia tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah katapun
aku segera pergi meninggalkannya. Ah, mungkin saat ini wajahku sudah memerah
seperti kepiting rebus.
"Bagaimana? Sudah kau
berikan?" Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
“Bagaimana reaksinya?"
"Dia menerima dengan baik. Ia
bahkan tersenyum ramah."
"Hmm, baguslah. Bukankah ini
awal yang baik." Aku mengangguk setuju dengan ucapan Jung Hi.
---o0o---
"Apa di kelas ini ada yang
namanya Yoo Ra?" Suara seseorang tiba-tiba mengalihkan
perhatian siswa-siswa yang berada di kelas 2-6. Aku yang saat itu sedang
berbincang dengan Ha Young, teman sebangkuku langsung menoleh ke arah sumber
suara. Kris? dia datang ke kelasku sendiri? Aku segera menghampiri dia yang berdiri
di ambang pintu kelasku.
"Bisa kita bicara
sekarang?" Tanyanya padaku ketika aku sudah sampai di hadapannya.
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya yang berjalan di koridor kelas. Sebelum
keluar kelas, aku sempat mendengar bisik-bisik dari teman-temanku.
"Hei, bukankah dia Kris?"
"Iya, keren ya."
"Untuk apa dia menemui Yoo
Ra." Aku benar-benar gugup di belakangnya. Rasanya seperti menunggu
pengumuman kelulusan. Kris berbalik ke arahku sambil menyerahkan surat yang
kemarin aku berikan.
"Maaf. Tapi aku sudah menyukai
orang lain." Untuk beberapa saat aku membeku mendengar jawaban dari Kris.
Tapi tak lama setelah itu, aku bisa
menguasai diri kembali.
"Ah, jadi begitu. Iya, tidak
apa-apa. Setidaknya kau tahu perasaanku." Kris menatapku tak enak.
"Kau gadis yang baik, aku yakin
kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih dari aku. Aku kembali ke kelas dulu,
namamu Yoo Ra, kan?" Aku mengangguk sambil memaksakan untuk tersenyum.
Kulihat punggung Kris yang semakin menjauh.
"Ayo anak-anak, lari 3 kali mengelilingi
lapangan seperti biasanya." Guru Go tampak bersemangat sekali berlari,
beliau berulangkali melintasi kami yang kelelahan berlari. Huh, padahal aku
lebih muda, tapi kenapa baru lari 2 putaran rasanya sudah seperti berlari 10
putaran. Aku sama sekali tak bersemangat kali ini.
"Ayo Yoo Ra, kau sudah
tertinggal jauh dengan teman-temanmu. Kenapa baru 2 putaran saja kau sudah
terlihat lesu seperti itu? Apa kau sedang patah hati sampai tak
bersemangat seperti itu." Kudengar teman-temanku menyorakiku. Lantas
kenapa kalau memang iya? Aku berdecak kesal. Seharian ini benar-benar
menyebalkan. Bruuk!!
"Auu.." Tiba-tiba saja aku
terjatuh karena tersandung batu. Aku memegang lututku yang sakit. Setelah
kulihat, ternyata lututku berdarah. Aish! hari ini lengkap sudah kesialanku.
"Kau baik-baik saja?" Aku
mendengar suara lembut seseorang yang tiba-tiba saja sudah berlutut di
sampingku. Pandangannya kemudian beralih pada lututku yang terluka.
"Lututmu berdarah, kau harus
segera diobati." Aku tahu laki-laki ini. Bukankah dia teman sebangku Kris?
Kurasakan sebuah tangan mengangkatku perlahan. Aku segera tersadar dari lamunanku.
"Eh???"
"Wah, lihat itu."
Teman-temanku yang tadi berlarian kini berhenti karena melihat pemandangan yang
menurut mereka aneh.
Sesampainya di UKS, laki-laki itu
segera mengambilkan obat merah
dan perban untuk mengobati lututku. Aku hanya memandangnya yang sedang sibuk membalut lukaku. Bukan, aku tidak memikirkan lukaku. Yang aku pikirkan sekarang adalah Kris.
dan perban untuk mengobati lututku. Aku hanya memandangnya yang sedang sibuk membalut lukaku. Bukan, aku tidak memikirkan lukaku. Yang aku pikirkan sekarang adalah Kris.
"Apa ada lagi yang terluka?"
Aku hanya mengangguk.
"Yang mana? Apa sikumu? Biar kuobati
sekalian." Aku
menggeleng pelan.
"Bukan, yang terluka di
sini." Aku menunjuk hatiku. Laki-laki berwajah kalem itu tersenyum
bingung.
"Kalau luka yang seperti itu,
aku tidak bisa menyembuhkannya." Ucapannya membuatku tersadar. Aku
langsung menunduk, sekarang wajahku sudah pasti memerah karena malu. Ah, kau
ini kenapa Yoo Ra? Bicara hal bodoh seperti tadi.
"Kau yang kemarin mencari Kris
bukan?" Tuhan, nama Kris disebut lagi. Kenapa dia mengingatkanku dengan
orang itu lagi. Aku hanya mengangguk tak semangat.
"Namaku Lay, aku teman dekatnya
Kris. Kau sendiri? Namamu siapa?"
"Namaku Shin Yoo Ra."
Kulihat dia hanya mengangguk.
"Baiklah aku kembali ke lapangan dulu.
Istirahat saja sampai keadaanmu sudah lebih baik." Saat dia hendak
melangkah keluar. Aku segera memanggilnya.
"Ehm, tunggu." Lay
berbalik ke arahku.
"Terima kasih atas
pertolongannya." Ia hanya tersenyum, kemudian melangkah pergi. Saat aku
menggerakkan kaki, aku merasa heran karena tak merasakam sakit lagi pada
lututku.
"Eh?" Rasanya
seperti tidak pernah ada luka di sana. Tanpa pikir panjang, aku langsung
membuka balutan luka di lututku. Benar saja, tak ada luka di sana. Hanya bekas
obat merah di lututku. Aku menepuk-nepuk lututku yang tadi terluka, tapi aku
tidak merasakan sakit sama sekali. Aneh, kenapa luka ini bisa pulih begitu
cepat? Hanya dalam
hitungan menit saja.
Hari ini aku lebih banyak diam
karena ada sesuatu yang memenuhi pikiranku sejak kemarin. Ini bahkan lebih
mengangguku daripada penolakan Kris.
"Kau begitu sekarang? Tak memberi
kabar apa-apa." Aku sedikit terlonjak ketika mendengar ocehan Jung Hi yang
tiba-tiba. Dia selalu saja seperti itu, mengagetkan orang saja.
"Bagaimana dengan Kris?" Aku
hanya menggeleng pelan. Bukan ini sekarang yang aku pikirkan.
"Apa maksudnya? Kau
ditolak?" Jung Hi menurunkan intonasi bicaranya ketika dia mengatakan kata
"ditolak." Aku mengangguk, tapi bukan ini yang ingin aku bahas. Jung
Hi memandangiku sejenak dengan bingung. Ia tampak memicingkan mata, melihatku
curiga.
"Kau kenapa? Kau
sakit?" Kurasakan
tangan Jung Hi menyentuh keningku. Tapi aku masih saja diam.
"Yak! Kenapa kau jadi aneh begini?"
"Ada sesuatu yang menganggu
pikiranku saat ini, dan ini bukan masalah Kris." Akhirnya aku mau angkat
bicara.
"Eh? Lalu "sesuatu" itu
apa?"
"Kau tahu anak yang bernama
Lay?"
"Lay? Teman dekat Kris itu
bukan?" Aku mengangguk.
"Astaga, Yoo Ra. Jangan bilang
kalau kau sekarang jatuh hati pada Lay. Oh, bagaimana ini, ternyata efek dari penolakan Kris
berakibat sangat fatal."
"Aish, bukan begitu. Menurutku
ada sesuatu yang aneh darinya."
"Yak! Yang aneh itu dirimu." Jung Hi
hanya berdecak kesal saat aku mulai mengatakan sesuatu yang menganggu
pikiranku.
"Kau tahu tentang Lay? Bisa ceritakan
padaku tentang dia?" Jung Hi memutar kedua bola matanya.
"Lay itu teman dekat Kris, di
kelas mereka sebangku dan rumah mereka juga searah. Dimana ada Kris, di situ
pasti ada Lay.”
"Tapi aku tak pernah melihat Lay."
"Itu karena kau terlalu terpaku
pada Kris."
"Benarkah? Lalu apa lagi yang
kau tahu tentang Lay?"
"Hmm, dia itu kalau menurut
pandanganku sih laki-laki yang kalem, nada bicaranya lembut, dan ia sangat
ramah. Oh ya, selain itu dia terkenal sekali di kalangan para siswi, terutama
adik kelas karena sifat perhatiannya itu. Setiap kali ada siswa yang terluka
dia pasti yang akan menjadi pertama kali menolong siswa itu. Karena sikapnya
yang perhatian dan suka menolong siswa terluka itulah Lay mendapat julukan
pegasus."
"Pegasus?"
"Hmm, aku dengar pegasus itu
lambang kepulihan. Ya, mungkin ibaratnya Lay itu malaikat pemulih luka, karena
ia sering menolong siswa yang terluka. Memangnya kenapa kau tiba-tiba jadi
ingin tahu tentang Lay?" Tanya Jung Hi curiga.
"Tidak ada." Aku
menggeleng sambil tersenyum. Jung Hi masih menatapku curiga. Sebelum dia
bertanya lagi, aku segera pergi.
---o0o---
Aku berjalan di koridor kelas dengan gontai.
Hari ini cukup melelahkan. Saat aku berjalan, aku melihat seseorang sedang
berlutut di samping pot bunga kecil di depan kelas 2-2. Ia memegang daun yang
layu dari bunga itu. Tapi tiba-tiba sesuatu tak terduga terjadi. Daun yang
semula layu itu berubah warna menjadi hijau. Terlihat segar kembali. Aku
membulatkan mata karena terkejut. Ada apa ini? Bagaimana bisa? Belum selesai dari
keterkejutanku, tiba-tiba laki- laki tadi berdiri dan tak sengaja menoleh ke
arahku. Ia tampak terkejut, tapi dengan cepat wajahnya kembali tenang.
"Kau belum pulang?” Tanyanya
seolah tak terjadi apa-apa.
"Kau siapa sebenarnya? Bagaimana
bisa?" Aku menoleh pada bunga di belakang Lay. Ia pun juga mengikuti arah pandangku, lalu
menoleh pada bunga di belakangnya. Ia tersenyum dan kembali menoleh ke arahku.
"Kau melihatnya, ya?"
"Katakan, bagaimana bisa?"
Aku benar-benar penasaran.
"Ikutlah denganku!" Lay
mengajakku ke taman sekolah. Aku berjalan di belakangnya dengan menatap
was-was. Dia mengajakku berjalan-jalan di antara bunga-bunga di taman sekolah.
"Inilah aku dan inilah
kekuatanku." Saat ada daun yang layu, dia memegangnya. Seperti sihir, daun
itu kembali hijau dan terlihat segar.
"Aku bisa membuat tanaman yang
layu kembali segar." Ia berhenti
di salah satu bunga mawar. Tangannya memegang batang mawar yang penuh duri.
Kulihat darah menetes di salah satu jari telunjuknya. Lay segera menghapus luka
itu dengan ibu jarinya. Hilang, tak ada bekas tusukan di sana, darah pun juga
berhenti menetes.
"Aku juga bisa menyembuhkan
luka." Lay menoleh ke arahku.
"Karena kau sudah terlanjur
tahu, aku akan memberi tahu semuanya. Sejak kecil, aku mempunyai kemampuan
aneh ini. Teman-temanku menjauhiku karena aku dianggap aneh. Tapi ada satu
orang yang justru kagum dengan kemampuanku. Dia adalah Kris." Aku melihat
Lay menunduk, tatapannya terlihat sendu.
"Kau juga tahu. Tak masalah
jika kau menjauhiku karena menganggapku aneh." Lay tampak mendongak ke atas,
menatap langit yang mulai berubah warna menjadi oranye. Dia memandangku sambil
tersenyum, kemudian berlalu pergi meninggalkanku yang masih diliputi
kebingungan.
Kejadian kemarin sore, sampai hari
ini masih membuatku tak habis pikir. Lay, dia berbeda. Sambil memakan makan
siangku, sesekali aku melihat ke arah Lay. Ia tengah bersama Kris, duduk di
bangku kantin tak jauh di depanku. Kris yang selalu bersemangat menceritakan
sesuatu sedangkan Lay lebih banyak mendengarkan dan sesekali berbicara untuk
menanggapi.
"Jadi sekarang bukan Kris lagi,
Yoo Ra?" Tanya Jung Hi.
Aku menggeleng.
"Kau benar-benar mudah
melupakan orang yang pernah kau suka." Jung Hi masih tetap lahap memakan
makan siangnya.
"Kris tidak menyukaiku."
Jung Hi menatapku sejenak.
"Lalu sekarang kau mau
berpindah hati pada Lay, sahabat Kris?" Aku menggeleng. Kemudian kami saling terdiam. Sekali
lagi aku melihat Lay, ia masih setia mendengarkan candaan Kris. Laki-laki itu,
seperti apa ia sebenarnya. Kenapa baru sekarang aku menyadari kehadirannya.
Padahal sudah lama ia selalu bersama Kris. Di samping Kris. Tapi selama ini,
aku hanya melihat Kris. Seolah tak ada siapapun selain Kris.
---o0o---
Pagi ini, giliranku membuang sampah
kelas. Saat berjalan kembali ke ruang kelas, aku mendengar suara pianika dari
ruang musik. Siapa pagi-pagi seperti ini berada di ruang musik? Aku menengok
dari pintu ruang seni musik. Kulihat ada seseorang yang tengah duduk di kursi
piano. Bukankah itu Lay? Sepagi ini dia sudah datang. Beberapa
saat kemudian ia menoleh ke arahku.
"Yoo Ra?"
"Ehm, iya aku. Maaf mengganggu.
Boleh aku masuk?"
"Tentu saja." Aku berjalan
dan duduk di sampingnya.
"Kau pandai bermain pianika
ya?" Dia mengangguk.
"Aku menyukai pianika sejak
kecil. Mau mendengarkan?" Aku mengangguk. Lay kemudian memainkan pianikanya
dengan sangat baik.
"Tentang kemarin lusa,
aku..." Aku berhenti sejenak. Berpikir mencari kata-kata yang tepat. Lay
tampak menunggu ucapanku dengan antusias.
"Tak jadi masalah buatku. Yang
penting kau bukan orang yang jahat. Aku tak akan menjauhimu." Lay
tersenyum mendengar ucapanku.
"Terima kasih." Untuk beberapa
saat kami saling terdiam.
"Tapi,ada hal yang membuatku
merasa sedih." Aku menoleh pada Lay.
"Aku tak bisa menyembuhkan hati
seseorang yang terluka." Lay melihatku. Apa ini sindiran untukku?
"Aku sudah dengar semuanya dari
Kris tentangmu."
"Eh?" Jadi Kris mengatakannya
pada Lay. Ugh! memalukan.
"Tak perlu khawatir, aku bisa
dipercaya untuk menjaga rahasia. Lagipula wajar Kris menceritakan semua padaku,
kami teman dekat. Bukan hanya dia saja, jika aku punya masalah pun aku juga
akan menceritakan padanya." Aku hanya menghela napas mendengar pernyataan
menyebalkan dari Lay.
"Yak! Lay kau tak ke
kelas?" Suara seseorang
di pintu ruang musik mengalihkan perhatian kami. Aku melihat Kris tengah
berdiri di ambang pintu. Untuk beberapa saat kami saling memandang. Aku segera
memalingkan wajah. Lay bergantian memandangku dan Kris.
"Aku akan menyusul Kris. Tasku
sudah ada di kelas, kau ke kelas saja dulu."
"Baiklah, aku pergi dulu."
Kris melambaikan tangannya pada Lay, begitu juga Lay.
"Kau dan Kris sangat dekat,
ya?"
"Iya, kami sudah berteman saat
kami masih sekolah dasar." Aku mengangguk.
"Aku bisa membantumu dekat
dengan Kris."
"Tidak perlu sampai seperti
itu. Aku tak ingin membahas itu lagi." Lay hanya mengangguk mendengar
pernyataanku.
"Aku sepertinya menyukai,
Lay."
"Uhukk..." Kulihat Jung Hi
tersedak. Ia segera meminum air putih.
"Kau menyukai Lay? Sudah kuduga
akan seperti ini."
"Dia laki-laki yang baik Jung
Hi. Saat berada di sampingnya aku merasa nyaman." Jung Hi memicingkan matanya memandangku.
"Lalu sekarang apa yang ingin
kau lakukan? Menyatakan perasaanmu? Lalu jika ditolak kau akan mencari teman Lay
dan menyukai teman Lay itu?"
"Tidak seperti itu, kali ini
berbeda."
--o0o--
Aku duduk di halte sambil menunggu bus. Sesekali
kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku menghela napas.
Rasa bosan mulai menyerangku. Tapi beberapa saat, aku melihat seseorang
mengendarai motor berhenti di depan halte. Ia membuka helmnya dan tersenyum ke
arahku. Dia Lay.
Ia
mengajakku ke suatu tempat. Aku hanya menurutinya, kurasa akan lebih baik jika
aku bepergian sebentar.
"Suasana di sini indah
bukan?" Lay berdiri di sampingku sambil memberikan es krim yang baru ia
beli.
"Terima kasih."
"Di sini aku dan ibuku sering
menghabiskan waktu bersama." Ia memandang laut biru penuh arti. Aku
melihat Lay dari samping. Angin pantai dengan jahil memainkan rambut
hitamnya. Setelah beberapa saat aku menunduk. Ada sesuatu yang menganggu hatiku
saat ini. Lay menoleh
ke arahku. Ia terlihat bingung dengan perubahan sikapku.
"Sudah kubilang, tentang Kris,
aku bisa membantumu dekat dengannya."
"Tidak bisakah kau berhenti
membahas tentang dia lagi?" Lay menatapku bingung.
"Yang aku suka itu dirimu bukan
Kris." Aku langsung membelalakkan mata. Terkejut dengan ucapanku sendiri.
Yoo Ra, kenapa kau selalu saja seperti ini. Kenapa selalu kau yang harus memulai
menyatakan perasaan. Detik berikutnya aku segera melangkah pergi meninggalkan
Lay yang masih terbengong di pinggir pantai. Aku tak punya keberanian untuk
bertemu dengannya besok. Aku mendengar suara Lay memanggil namaku.
"Yoo Ra." Langkahku
terhenti.
"Aku hanya bercanda tentang
Kris. Aku hanya ingin tahu reaksimu saja." Aku segera berbalik melihat
Lay. Ia tersenyum
"Saranghae." Ucapnya lembut.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar