Kamera pengintai

Selasa, 20 Januari 2015

CERPEN: MY PEGASUS (LOVE HURTS)


My Pegasus (Love Hurts)
Oleh: Aira Nugrahayu

Aku melihatnya lagi. Laki-laki bertubuh tinggi dengan alis mata tegasnya itu tampak berjalan bersama dengan teman dekatnya. Ia tersenyum. Tuhan, senyum itu benar-benar candu bagiku. Ingin rasanya setiap hari bisa melihatnya. Tak masalah walaupun dari jarak sejauh ini, yang terpenting aku bisa melihat senyumnya yang memabukkan itu.
"Kau lihat siapa?" Tanya Jung Hi yang tiba-tiba duduk di sampingku.
"Aku melihat pangeran tampan." Ucapku masih sambil terus memperhatikan laki-laki tadi. Jung Hi kemudian mengikuti arah pandangku. Saat dia tahu siapa yang kumaksud, ia langsung menggeleng pelan.
"Maksudmu Kris?" Aku hanya mengangguk. Dengan senyum yang mengembang, pandanganku masih tetap terfokus pada Kris.
"Dia lagi, dia lagi." Ucap Jung Hi malas.
"Kau jangan terlalu terobsesi dengan laki-laki keturunan Kanada Cina itu. Terlalu berharap tinggi apa kau tidak takut jatuh?" Ucapan Jung Hi membuatku menoleh. Aku menghela nafas pelan.
"Mungkin kau benar, Jung Hi." Aku menunduk. Benar, rasanya mustahil jika Kris sang idol sekolah ini bisa jadi milikku.
"Yak! Kenapa jadi patah semangat begini? Mana Yoo Ra yang selalu semangat dan pantang menyerah." Aku langsung memandang Jung Hi dengan bingung. Bukankah tadi sepertinya dia tidak setuju denganku?
"Kenapa? Aku hanya bercanda tadi. Jika kau memang menyukai Kris, kenapa tidak kau perjuangkan saja."
"Eh?" Aku bingung, tapi dalam hati aku senang karena ternyata Jung Hi mendukungku.
"Segera nyatakan perasaanmu, kawan."
"Hmm... Tapi bagaimana aku harus memulainya?"
"Beri dia surat cinta."
"Uhukk.." Aku yang saat itu sedang minum langsung tersedak begitu mendengar pernyataan dari Jung Hi.
"Surat cinta?"
"Iya, surat cinta. Atau kau mau mengatakan secara langsung perasaanmu?"
"Yak! Tidak mau. Mana mungkin aku menyatakan perasaanku secara langsung. Tentu saja aku memilih metode surat cinta." Pipiku mungkin sudah bersemu merah sekarang. Huh, kenapa tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat.
"Kalau begitu cepat buat surat cintamu dan berikan pada Kris."
"Eh? apa aku harus berikan sendiri suratnya?" Jung Hi hanya menepuk pelan dahinya menghadapi kepolosanku atau lebih tepatnya kebodohanku.
"Tentu saja kau berikan sendiri."
"Apa? tapi... tapi..."
"Ayo Yoo Ra, kau pasti bisa. Semangat, semangat." Aku hanya menggembungkan kedua pipiku gugup. Baiklah, apa salahnya mencoba.
Keesokan harinya, aku berjalan ke kelas Jung Hi. Entahlah, aku masih butuh saran-saran darinya.
"Bagaimana?" Tanyanya padaku saat aku memanggilnya di depan pintu kelasnya.
"Aku akan memberikan padanya." Aku menunjukkan surat bersampul biru muda itu pada Jung Hi. Aku sudah susah payah semalaman menyusun kata demi kata agar menjadi rangkaian kalimat yang indah.
"Bagus. Lalu tunggu apa lagi?"
"Aku masih ragu. Aku benar-benar gugup sekarang."
"Begini, mudah saja. Kau cari Kris, jika sudah bertemu ulurkan tanganmu dan berikan surat cinta itu pada Kris. Mudah, kan?"
"Tapi bagaimana jika kemungkinan buruk terjadi?"
"Kau belum mencobanya kenapa sudah berpikiran yang buruk dulu. Aku yakin akan baik-baik saja. Bukankah Kris itu anak yang baik?" Aku mengangguk. Jung Hi kemudian menepuk pundakku pelan.
"Baiklah Yoo Ra, semoga berhasil. Semangat!" Ia mengepalkan salah satu tangannya. Aku mengangguk mantap.
"Hmm, semangat!” Kulangkahkan kakiku menuju kelas Kris. Jarak kelas kami tak terlalu jauh, hanya perlu melewati 3 kelas untuk sampai di kelas Kris. Saat sampai di depan kelasnya, aku masih mengatur napas karena tiba-tiba rasa gugup menguasaiku. Setelah beberapa saat aku mencoba tenang, akhirnya aku memasuki kelas Kris dan megedarkan pandanganku untuk mencari sosoknya. Itu dia, dia sedang tidur di bangkunya. Teman sebangkunya tengah sibuk memainkan pianika. Aku berjalan menuju mejanya.
"Apa Kris tidur?" tanyaku pada teman sebangkunya. Laki-laki itu menghentikan permainan pianikanya dan memandangku sejenak. Dia tersenyum ramah.
"Kris, ada seorang gadis yang mencarimu." Kulihat Kris yang tadi memejamkan mata mulai bangkit. Aku menelan ludah saat pandangannya menatapku. Bagaimana ini? Rasa gugup itu menyerangku kembali.
"Bisa kita bicara? Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu." Kris mengangguk dan beranjak pergi dari bangkunya. Hei! Dia bahkan mendahuluiku.
Ketika sampai di koridor kelas, Kris menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku. Sebelum ia bertanya apa tujuanku, aku segera memberikan suratku padanya. Dia sedikit bingung ketika aku memberikan surat itu padanya. Tapi sedetik kemudian tangannya tanpa ragu menerima surat cintaku. Aku bersorak dalam hati, ternyata Kris sangat baik. Tidak angkuh seperti yang dikatakan teman-teman kebanyakan. Dia hanya mengangguk sambil memandangi surat itu. Kulihat ia tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah katapun aku segera pergi meninggalkannya. Ah, mungkin saat ini wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Bagaimana? Sudah kau berikan?" Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
“Bagaimana reaksinya?"
"Dia menerima dengan baik. Ia bahkan tersenyum ramah."
"Hmm, baguslah. Bukankah ini awal yang baik." Aku mengangguk setuju dengan ucapan Jung Hi.
---o0o---
"Apa di kelas ini ada yang namanya Yoo Ra?" Suara seseorang tiba-tiba mengalihkan perhatian siswa-siswa yang berada di kelas 2-6. Aku yang saat itu sedang berbincang dengan Ha Young, teman sebangkuku langsung menoleh ke arah sumber suara. Kris? dia datang ke kelasku sendiri? Aku segera menghampiri dia yang berdiri di ambang pintu kelasku.
"Bisa kita bicara sekarang?" Tanyanya padaku ketika aku sudah sampai di hadapannya. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya yang berjalan di koridor kelas. Sebelum keluar kelas, aku sempat mendengar bisik-bisik dari teman-temanku.
"Hei, bukankah dia Kris?"
"Iya, keren ya."
"Untuk apa dia menemui Yoo Ra." Aku benar-benar gugup di belakangnya. Rasanya seperti menunggu pengumuman kelulusan. Kris berbalik ke arahku sambil menyerahkan surat yang kemarin aku berikan.
"Maaf. Tapi aku sudah menyukai orang lain." Untuk beberapa saat aku membeku mendengar jawaban dari Kris. Tapi tak lama setelah itu, aku bisa menguasai diri kembali.
"Ah, jadi begitu. Iya, tidak apa-apa. Setidaknya kau tahu perasaanku." Kris menatapku tak enak.
"Kau gadis yang baik, aku yakin kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih dari aku. Aku kembali ke kelas dulu, namamu Yoo Ra, kan?" Aku mengangguk sambil memaksakan untuk tersenyum. Kulihat punggung Kris yang semakin menjauh.
 "Ayo anak-anak, lari 3 kali mengelilingi lapangan seperti biasanya." Guru Go tampak bersemangat sekali berlari, beliau berulangkali melintasi kami yang kelelahan berlari. Huh, padahal aku lebih muda, tapi kenapa baru lari 2 putaran rasanya sudah seperti berlari 10 putaran. Aku sama sekali tak bersemangat kali ini.
"Ayo Yoo Ra, kau sudah tertinggal jauh dengan teman-temanmu. Kenapa baru 2 putaran saja kau sudah terlihat lesu seperti itu? Apa kau sedang patah hati sampai tak bersemangat seperti itu." Kudengar teman-temanku menyorakiku. Lantas kenapa kalau memang iya? Aku berdecak kesal. Seharian ini benar-benar menyebalkan. Bruuk!!
"Auu.." Tiba-tiba saja aku terjatuh karena tersandung batu. Aku memegang lututku yang sakit. Setelah kulihat, ternyata lututku berdarah. Aish! hari ini lengkap sudah kesialanku.
"Kau baik-baik saja?" Aku mendengar suara lembut seseorang yang tiba-tiba saja sudah berlutut di sampingku. Pandangannya kemudian beralih pada lututku yang terluka.
"Lututmu berdarah, kau harus segera diobati." Aku tahu laki-laki ini. Bukankah dia teman sebangku Kris? Kurasakan sebuah tangan mengangkatku perlahan. Aku segera tersadar dari lamunanku.
"Eh???"
"Wah, lihat itu." Teman-temanku yang tadi berlarian kini berhenti karena melihat pemandangan yang menurut mereka aneh.
Sesampainya di UKS, laki-laki itu segera mengambilkan obat merah
dan perban untuk mengobati lututku. Aku hanya memandangnya yang sedang sibuk membalut lukaku. Bukan, aku tidak memikirkan lukaku. Yang aku pikirkan sekarang adalah Kris.
"Apa ada lagi yang terluka?" Aku hanya mengangguk.
"Yang mana? Apa sikumu? Biar kuobati sekalian." Aku menggeleng pelan.
"Bukan, yang terluka di sini." Aku menunjuk hatiku. Laki-laki berwajah kalem itu tersenyum bingung.
"Kalau luka yang seperti itu, aku tidak bisa menyembuhkannya." Ucapannya membuatku tersadar. Aku langsung menunduk, sekarang wajahku sudah pasti memerah karena malu. Ah, kau ini kenapa Yoo Ra? Bicara hal bodoh seperti tadi.
"Kau yang kemarin mencari Kris bukan?" Tuhan, nama Kris disebut lagi. Kenapa dia mengingatkanku dengan orang itu lagi. Aku hanya mengangguk tak semangat.
"Namaku Lay, aku teman dekatnya Kris. Kau sendiri? Namamu siapa?"
"Namaku Shin Yoo Ra." Kulihat dia hanya mengangguk.
 "Baiklah aku kembali ke lapangan dulu. Istirahat saja sampai keadaanmu sudah lebih baik." Saat dia hendak melangkah keluar. Aku segera memanggilnya.
"Ehm, tunggu." Lay berbalik ke arahku.
"Terima kasih atas pertolongannya." Ia hanya tersenyum, kemudian melangkah pergi. Saat aku menggerakkan kaki, aku merasa heran karena tak merasakam sakit lagi pada lututku.
"Eh?" Rasanya seperti tidak pernah ada luka di sana. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka balutan luka di lututku. Benar saja, tak ada luka di sana. Hanya bekas obat merah di lututku. Aku menepuk-nepuk lututku yang tadi terluka, tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali. Aneh, kenapa luka ini bisa pulih begitu cepat? Hanya dalam hitungan menit saja.
Hari ini aku lebih banyak diam karena ada sesuatu yang memenuhi pikiranku sejak kemarin. Ini bahkan lebih mengangguku daripada penolakan Kris.
"Kau begitu sekarang? Tak memberi kabar apa-apa." Aku sedikit terlonjak ketika mendengar ocehan Jung Hi yang tiba-tiba. Dia selalu saja seperti itu, mengagetkan orang saja.
"Bagaimana dengan Kris?" Aku hanya menggeleng pelan. Bukan ini sekarang yang aku pikirkan.
"Apa maksudnya? Kau ditolak?" Jung Hi menurunkan intonasi bicaranya ketika dia mengatakan kata "ditolak." Aku mengangguk, tapi bukan ini yang ingin aku bahas. Jung Hi memandangiku sejenak dengan bingung. Ia tampak memicingkan mata, melihatku curiga.
"Kau kenapa? Kau sakit?" Kurasakan tangan Jung Hi menyentuh keningku. Tapi aku masih saja diam.
"Yak! Kenapa kau jadi aneh begini?"
"Ada sesuatu yang menganggu pikiranku saat ini, dan ini bukan masalah Kris." Akhirnya aku mau angkat bicara.
"Eh? Lalu "sesuatu" itu apa?"
"Kau tahu anak yang bernama Lay?"
"Lay? Teman dekat Kris itu bukan?" Aku mengangguk.
"Astaga, Yoo Ra. Jangan bilang kalau kau sekarang jatuh hati pada Lay. Oh, bagaimana ini, ternyata efek dari penolakan Kris berakibat sangat fatal."
"Aish, bukan begitu. Menurutku ada sesuatu yang aneh darinya."
"Yak! Yang aneh itu dirimu." Jung Hi hanya berdecak kesal saat aku mulai mengatakan sesuatu yang menganggu pikiranku.
"Kau tahu tentang Lay? Bisa ceritakan padaku tentang dia?" Jung Hi memutar kedua bola matanya.
"Lay itu teman dekat Kris, di kelas mereka sebangku dan rumah mereka juga searah. Dimana ada Kris, di situ pasti ada Lay.”
 "Tapi aku tak pernah melihat Lay."
"Itu karena kau terlalu terpaku pada Kris."
"Benarkah? Lalu apa lagi yang kau tahu tentang Lay?"
"Hmm, dia itu kalau menurut pandanganku sih laki-laki yang kalem, nada bicaranya lembut, dan ia sangat ramah. Oh ya, selain itu dia terkenal sekali di kalangan para siswi, terutama adik kelas karena sifat perhatiannya itu. Setiap kali ada siswa yang terluka dia pasti yang akan menjadi pertama kali menolong siswa itu. Karena sikapnya yang perhatian dan suka menolong siswa terluka itulah Lay mendapat julukan pegasus."
"Pegasus?"
"Hmm, aku dengar pegasus itu lambang kepulihan. Ya, mungkin ibaratnya Lay itu malaikat pemulih luka, karena ia sering menolong siswa yang terluka. Memangnya kenapa kau tiba-tiba jadi ingin tahu tentang Lay?" Tanya Jung Hi curiga.
"Tidak ada." Aku menggeleng sambil tersenyum. Jung Hi masih menatapku curiga. Sebelum dia bertanya lagi, aku segera pergi.
---o0o---
 Aku berjalan di koridor kelas dengan gontai. Hari ini cukup melelahkan. Saat aku berjalan, aku melihat seseorang sedang berlutut di samping pot bunga kecil di depan kelas 2-2. Ia memegang daun yang layu dari bunga itu. Tapi tiba-tiba sesuatu tak terduga terjadi. Daun yang semula layu itu berubah warna menjadi hijau. Terlihat segar kembali. Aku membulatkan mata karena terkejut. Ada apa ini? Bagaimana bisa? Belum selesai dari keterkejutanku, tiba-tiba laki- laki tadi berdiri dan tak sengaja menoleh ke arahku. Ia tampak terkejut, tapi dengan cepat wajahnya kembali tenang.
"Kau belum pulang?” Tanyanya seolah tak terjadi apa-apa.
"Kau siapa sebenarnya? Bagaimana bisa?" Aku menoleh pada bunga di belakang Lay. Ia pun juga mengikuti arah pandangku, lalu menoleh pada bunga di belakangnya. Ia tersenyum dan kembali menoleh ke arahku.
"Kau melihatnya, ya?"
"Katakan, bagaimana bisa?" Aku benar-benar penasaran.
"Ikutlah denganku!" Lay mengajakku ke taman sekolah. Aku berjalan di belakangnya dengan menatap was-was. Dia mengajakku berjalan-jalan di antara bunga-bunga di taman sekolah.
"Inilah aku dan inilah kekuatanku." Saat ada daun yang layu, dia memegangnya. Seperti sihir, daun itu kembali hijau dan terlihat segar.
"Aku bisa membuat tanaman yang layu kembali segar." Ia berhenti di salah satu bunga mawar. Tangannya memegang batang mawar yang penuh duri. Kulihat darah menetes di salah satu jari telunjuknya. Lay segera menghapus luka itu dengan ibu jarinya. Hilang, tak ada bekas tusukan di sana, darah pun juga berhenti menetes.
"Aku juga bisa menyembuhkan luka." Lay menoleh ke arahku.
"Karena kau sudah terlanjur tahu, aku akan memberi tahu semuanya. Sejak kecil, aku mempunyai kemampuan aneh ini. Teman-temanku menjauhiku karena aku dianggap aneh. Tapi ada satu orang yang justru kagum dengan kemampuanku. Dia adalah Kris." Aku melihat Lay menunduk, tatapannya terlihat sendu.
"Kau juga tahu. Tak masalah jika kau menjauhiku karena menganggapku aneh." Lay tampak mendongak ke atas, menatap langit yang mulai berubah warna menjadi oranye. Dia memandangku sambil tersenyum, kemudian berlalu pergi meninggalkanku yang masih diliputi kebingungan.
Kejadian kemarin sore, sampai hari ini masih membuatku tak habis pikir. Lay, dia berbeda. Sambil memakan makan siangku, sesekali aku melihat ke arah Lay. Ia tengah bersama Kris, duduk di bangku kantin tak jauh di depanku. Kris yang selalu bersemangat menceritakan sesuatu sedangkan Lay lebih banyak mendengarkan dan sesekali berbicara untuk menanggapi.
"Jadi sekarang bukan Kris lagi, Yoo Ra?" Tanya Jung Hi. Aku menggeleng.
"Kau benar-benar mudah melupakan orang yang pernah kau suka." Jung Hi masih tetap lahap memakan makan siangnya.
"Kris tidak menyukaiku." Jung Hi menatapku sejenak.
"Lalu sekarang kau mau berpindah hati pada Lay, sahabat Kris?" Aku menggeleng. Kemudian kami saling terdiam. Sekali lagi aku melihat Lay, ia masih setia mendengarkan candaan Kris. Laki-laki itu, seperti apa ia sebenarnya. Kenapa baru sekarang aku menyadari kehadirannya. Padahal sudah lama ia selalu bersama Kris. Di samping Kris. Tapi selama ini, aku hanya melihat Kris. Seolah tak ada siapapun selain Kris.
---o0o---
Pagi ini, giliranku membuang sampah kelas. Saat berjalan kembali ke ruang kelas, aku mendengar suara pianika dari ruang musik. Siapa pagi-pagi seperti ini berada di ruang musik? Aku menengok dari pintu ruang seni musik. Kulihat ada seseorang yang tengah duduk di kursi piano. Bukankah itu Lay? Sepagi ini dia sudah datang. Beberapa saat kemudian ia menoleh ke arahku.
"Yoo Ra?"
"Ehm, iya aku. Maaf mengganggu. Boleh aku masuk?"
"Tentu saja." Aku berjalan dan duduk di sampingnya.
"Kau pandai bermain pianika ya?" Dia mengangguk.
"Aku menyukai pianika sejak kecil. Mau mendengarkan?" Aku mengangguk. Lay kemudian memainkan pianikanya dengan sangat baik.
"Tentang kemarin lusa, aku..." Aku berhenti sejenak. Berpikir mencari kata-kata yang tepat. Lay tampak menunggu ucapanku dengan antusias.
"Tak jadi masalah buatku. Yang penting kau bukan orang yang jahat. Aku tak akan menjauhimu." Lay tersenyum mendengar ucapanku.
"Terima kasih." Untuk beberapa saat kami saling terdiam.
"Tapi,ada hal yang membuatku merasa sedih." Aku menoleh pada Lay.
"Aku tak bisa menyembuhkan hati seseorang yang terluka." Lay melihatku. Apa ini sindiran untukku?
"Aku sudah dengar semuanya dari Kris tentangmu."
"Eh?" Jadi Kris mengatakannya pada Lay. Ugh! memalukan.
"Tak perlu khawatir, aku bisa dipercaya untuk menjaga rahasia. Lagipula wajar Kris menceritakan semua padaku, kami teman dekat. Bukan hanya dia saja, jika aku punya masalah pun aku juga akan menceritakan padanya." Aku hanya menghela napas mendengar pernyataan menyebalkan dari Lay.
"Yak! Lay kau tak ke kelas?" Suara seseorang di pintu ruang musik mengalihkan perhatian kami. Aku melihat Kris tengah berdiri di ambang pintu. Untuk beberapa saat kami saling memandang. Aku segera memalingkan wajah. Lay bergantian memandangku dan Kris.
"Aku akan menyusul Kris. Tasku sudah ada di kelas, kau ke kelas saja dulu."
"Baiklah, aku pergi dulu." Kris melambaikan tangannya pada Lay, begitu juga Lay.
"Kau dan Kris sangat dekat, ya?"
"Iya, kami sudah berteman saat kami masih sekolah dasar." Aku mengangguk.
"Aku bisa membantumu dekat dengan Kris."
"Tidak perlu sampai seperti itu. Aku tak ingin membahas itu lagi." Lay hanya mengangguk mendengar pernyataanku.
"Aku sepertinya menyukai, Lay."
"Uhukk..." Kulihat Jung Hi tersedak. Ia segera meminum air putih.
"Kau menyukai Lay? Sudah kuduga akan seperti ini."
"Dia laki-laki yang baik Jung Hi. Saat berada di sampingnya aku merasa nyaman." Jung Hi memicingkan matanya memandangku.
"Lalu sekarang apa yang ingin kau lakukan? Menyatakan perasaanmu? Lalu jika ditolak kau akan mencari teman Lay dan menyukai teman Lay itu?"
"Tidak seperti itu, kali ini berbeda."
--o0o--
 Aku duduk di halte sambil menunggu bus. Sesekali kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku menghela napas. Rasa bosan mulai menyerangku. Tapi beberapa saat, aku melihat seseorang mengendarai motor berhenti di depan halte. Ia membuka helmnya dan tersenyum ke arahku. Dia Lay.
Ia mengajakku ke suatu tempat. Aku hanya menurutinya, kurasa akan lebih baik jika aku bepergian sebentar.
"Suasana di sini indah bukan?" Lay berdiri di sampingku sambil memberikan es krim yang baru ia beli.
"Terima kasih."
"Di sini aku dan ibuku sering menghabiskan waktu bersama." Ia memandang laut biru penuh arti. Aku melihat Lay dari samping. Angin pantai dengan jahil memainkan rambut hitamnya. Setelah beberapa saat aku menunduk. Ada sesuatu yang menganggu hatiku saat ini. Lay menoleh ke arahku. Ia terlihat bingung dengan perubahan sikapku.
"Sudah kubilang, tentang Kris, aku bisa membantumu dekat dengannya."
"Tidak bisakah kau berhenti membahas tentang dia lagi?" Lay menatapku bingung.
"Yang aku suka itu dirimu bukan Kris." Aku langsung membelalakkan mata. Terkejut dengan ucapanku sendiri. Yoo Ra, kenapa kau selalu saja seperti ini. Kenapa selalu kau yang harus memulai menyatakan perasaan. Detik berikutnya aku segera melangkah pergi meninggalkan Lay yang masih terbengong di pinggir pantai. Aku tak punya keberanian untuk bertemu dengannya besok. Aku mendengar suara Lay memanggil namaku.
"Yoo Ra." Langkahku terhenti.
"Aku hanya bercanda tentang Kris. Aku hanya ingin tahu reaksimu saja." Aku segera berbalik melihat Lay. Ia tersenyum
"Saranghae." Ucapnya lembut.
Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar